SHOWBIZ

Cheese in the Trap (Episode 4 Part 1)

sebelumnya, Yoojung dan Hongsul kembali akrab. Mereka makan dan jalan bareng. Saat Hongsul mau masuk rumah, Yoojung menahannya dan bertanya, “Kau mau jadi pacarku?”

“Kau mau jadi pacarku?” tanya Yoojung, ketika Hongsul mau masuk ke dalam. Hongsul tak mengiyakan. Dia hanya mengatakan bahwa dirinya belum memikirkan pacaran. Hal itu cukup menjawab pertanyaan Yoojung.

"Sinopsis

Yoojung pun melepaskan tangan Hongsul. “Tapi itu tidak berarti aku tak menyukaimu,” Hongsul cepat mengatakan, sebelum Yoojung berubah pikiran. Kemudian Yoojung meyakinkan Hongsul untuk jalan bareng. Toh mereka sama-sama suka. Hongsul setuju.

Di dalam kamar kos-kosannya, Hongsul melonjak-lonjak girang. Dia tidak percaya, cowok sekece Yoojung mau pacaran dengan cewek se… (silakan isi sendiri ya, hehehe!). Dia bertanya-tanya, “Kenapa cowok sekece Yoojung mau pacaran dengannya? Tak mungkin dia menyukaiku!”

Hongsul membelah diri beberapa banyak – itu suara hatinya. Ada yang setuju kalau Yoojung tidak mungkin menyukai Hongsul. Tak ada satu pun pertanda yang menunjukkan Yoojung menyukainya. Lagipula aneh saja gitu, tahun sebelumnya Yoojung memperlakukan Hongsul semena-mena, kini tiba-tiba bilang suka. Sementara belahan diri Hongsul yang setuju kalau Yoojung suka Hongsul bertanya, “Apa mungkin Yoojung mengajakmu pacaran kalau tidak suka padamu?” ~ Iya juga sih.

Namun Hongsul setuju dengan kata hatinya yang mencurigai Yoojung merencanakan sesuatu dengan menyatakan cinta padanya. Tiba-tiba perasaan menyesal menjalani sekujur tubuhnya. Kenapa dia harus mengangguk setuju untuk pacaran dengan Yoojung?

Besoknya, Hongsul bangun dan kebingungan bagaimana harus menghadapi Yoojung? Apa yang harus dikatakannya pada semua orang di kampus? Tak lama kemudian, dia menyadari sekarang adalah liburan. Jadi Yoojung pasti bakalan sibuk. Meski begitu, waktu ke kampus, Hongsul tetap saja kepikiran tentang apa yang harus dikatakannya kalau bertemu Yoojung? Bagaimana bila hubungan asmara mereka kentara benar di mata orang-orang?

Pada akhirnya, mereka berpapasan juga. Waktu disapa Hongsul, Yoojung membalas sapaannya sambil lalu untuk selanjutnya pergi. Itu bikin hati Hongsul gondok setengah mati. “Apa cowok itu orang yang mengajakku pacaran? … Bukankah sikapnya tidak tepat. Jangan-jangan, dia menyesalinya?” pikiran negatif Hongsul berkecamuk.

Hongsul balik ke rumah ortu. Dia minta dibantu membayar uang semester berikutnya, soalnya gagal dapat beasiswa. Salah satu nilai mata kuliah jeblok. Papa Hongsul malah marah-marah. Dia menilai Hongsul tak mengerti kondisi perekonomian keluarga. Bagaimana bisa Hongsul minta uang di saat keuangan keluarga morat-marit begini? Mama Hongsul memberitahu Hongsul kalau Papa kehilangan banyak uang, karena dipakai untuk investasi bodong.

“Jangankan bayar kuliah, bayar kontrakan rumah bulan ini saja bakalan nunggak tampaknya,” kata Mama menjelaskan. Dia menyarankan Hongsul untuk pindah kos yang lebih kecil. Dengan begitu, Hongsul akan mendapat uang deposit kos, yang bisa dipakai untuk bayar kuliahnya dan Hongjoon (Hongjoon itu adiknya Hongsul). Selain itu, Mama meminta Hongsul tidak lagi mengambil cuti kuliah di semester selanjutnya.

Saat kembali ke kos-kosannya, Hongsul coba meyakinkan kalau saran Mama agar dirinya pindah adalah yang terbaik. Dia memikirkan keburukan kos-kosannya – mulai dari pegalnya kaki karena harus naik-turun tangga, tetangga yang sensian, ruangan yang sumpek berbahan triplek.

Hongsul menatap HP-nya. Dia heran, kenapa Yoojung tak kunjung menelponnya. Dia meng-SMS Ahyoung untuk menanyakan apakah wajah kondisi pacarannya saat ini. Tapi dia menyadari Ahyoung sedang plesiran untuk mengisi liburannya. Dia ingin meng-SMS Bora, tapi mengurungkan niatnya, mengingat mereka sedang bertengkar.

Pada akhirnya, Hongsul memutuskan tidak mau peduli dengan kondisi hubungannya. Beberapa saat kemudian HP-nya berbunyi. Hongsul buru-buru membukanya. Ternyata yang SMS Euntaek, mengajaknya kongkow bareng.

Euntaek tidak sendiri. Dia bersama Bora. Dia mengajak Hongsul kongkow bareng untuk mendamaikan Hongsul dan Bora yang sedang berselisih paham. Karena kondisinya kondusif, semuanya berjalan dengan baik. Hongsul meminta maaf, pikirannya benar-benar kalut waktu itu. Bora memaafkannya dengan catatan Hongsul tidak menyembunyikan apapun lagi darinya. Hongsul berjanji akan berusaha.

Karena sudah maaf-maafan, Hongsul bercerita pada Euntaek dan Bora kalau Yoojung nembak dirinya. Keduanya menganggap Hongsul sedang hilang pikirannya. Ha. Bohong salah, jujur malah ditertawai. Hongsul meyakinkan mereka berdua kalau dirinya tidak sedang mood bercanda. Dia kesal saja gitu, diajak jadian tapi tidak diajak komunikasi.

Euntaek berseloroh hal menarik apa yang Yoojung lihat dari makhluk bernama Hongsul? Dia coba mencarinya, tapi menemukannya. Bora memberitahu Euntaek kalau hal paling menarik dari Hongsul adalah tanggung jawabnya.

Kongkow itu harus selesai, karena Hongsul ditelpon Asdos Heo yang ingin mempekerjakan Hongsul sebagai pembantu kantor. Hongsul menerimanya. Sementara Hongsul langsung cus, Euntaek mengajak Bora kencan. Bora menolak. Euntaek bertanya, “Kurang ganteng apa ya aku?”

Hongsul memutuskan meng-SMS Yoojung lebih dulu. Dia memberitahu kalau dirinya dipekerjakan Asdos Heo sebagai pembantu kantor selama libur kuliah. Yoojung membalas singkat. Itu bikin Hongsul bete.

Hari pertama menjadi pembantu kantor, Hongsul kena damprat Asdos Heo karena datang terlambat beberapa menit saja. Di hari-hari lainnya, dia juga kena damprat terus. Itu membuat Hongsul merasa bak di neraka jahanam. Hawa neraka itu sedikit sejuk saat Yoojung tiba-tiba muncul di kantor jurusan. Hongsul kaget sekaligus senang.

Yoojung datang menemui Hongsul, karena Hongsul tidak memberinya kabar apa-apa. Hongsul merasa sudah memberitahu Yoojung soal pekerjaan part-time-nya di kampus. Namun Yoojung menjelaskan kalau di SMS-nya itu, dia bermaksud menyuruh Hongsul bersenang-senang selama liburan. “Kok aku merasa buruk ya?” Hongsul membatin. Yoojung kemudian mengajak Hongsul kencan akhir pekan. Cihuyyy!!!

Hari kencan pun tiba. Hongsul memakai busana yang cerah dan riasan wajah ~ itu sesuai saran Inho terakhir kali. Dia juga merapikan poninya, karena ingatan sebutan Inho untuk poninya itu adalah “bulu anj*ng”, wkwkwk kurang ajar banget itu orang.

Yoojung menghubungi Papinya untuk melaporkan kalau Inha mengambil uang pengembalian biaya kursus. Papi Yoojung menyarankan agar mereka mendorong Inha sedikit lebih jauh. Selesai telpon Papi Yoojung tersenyum kecil. Ada sesuatu licik yang direncanakannya.

Inho bertemu Hongsul sedang mematutkan diri di sebuah kaca. Dia menghampirinya. Hongsul kaget karena harus bertemu dengan Inho dalam kondisi seperti sekarang. Inho menjelaskan bahwa dirinya ingin mengikuti wawancara kerja. Kerja? Dengan pakaian seperti preman pensiun? Hongsul menyuruh Inho untuk mengenakan kemeja lengan panjang dengan celana hitam bahan. Tidak seperti sekarang yang lebih mirip preman jalanan.

Dikritik begitu, Inho menggoda Hongsul, apa mau bertemu seorang pria dengan pakaian kembang-kembang begitu? Candaan Inho membuat Hongsul berniat mengganti pakaiannya lagi.

Hongsul bertemu Yoojung dengan pakaian putih yang dipagu jeans ketat hitam. Itu saran Inho. Yoojung yang melihatnya merasa Hongsul cantik. Melihat Yoojung sudah beli tiket, Hongsul akan beli berondong jagung dengan kupon yang dimilikinya. Dia membuka aplikasi kupon di HP-nya dan menyuruh Yoojung memilih, mau keju atau bawang putih? Yoojung kebingungan. “Dia kenapa sih? Apa dia tidak tahu apa itu kupon?” gumam Hongsul.

Jadwal film bioskop yang akan mereka tonton belum mulai. Jeda waktu itu dipakai Yoojung mengajak Hongsul ke kafe. Hongsul menolak. Waktu mereka tidak banyak, jadi ke kafe justru akan buang-buang uang. Dia menyarankan jeda waktu dipakai untuk main tebak-tebakan. Setelah menjelaskannya, mereka memulai permainan. Hasil akhirnya Hongsul kalah telak. Hongsul kagum. Yoojung berhasil pecahkan rekor!

Inha sibuk pilah-pilih barang yang mau dibelinya. Begitu mau bayar dengan kartu kredit, kasir memberitahu Inha kalau kartu kreditnya telah diblokir. Inha menghubungi Papinya Yoojung untuk menanyakannya. Papinya Yoojung menyarankan Inha untuk mengikuti kursusnya supaya bisa dapat sertifikat dan pekerjaan. Inha memohon agar tidak diikutkan kursus-kursus begituan. Dia tidak sepandai itu. Papinya Yoojung tidak mau Inha kolokan seperti bocah. Dia menyebutkan kursus itu berguna bagi masa depan Inha juga.

Papi Yoojung mengatakan kalau Yoojung berharap Inha belajar dengan baik di kursusan. Sadar kalau dirinya digarap Yoojung, Inha naik pitam.

Yoojung dan Hongsul sedang ada di dalam bioskop. Ternyata Hongsul tidak suka dengan film yang Yoojung pilih untuk mereka tonton. Selera mereka beda ternyata. Hongsul suka film aksi. Sementara Hongsul sibuk dengan pikirannya, Yoojung mereject tidak merespons panggilan Inha.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s